Sabtu, 26 Juli 2008

Bukan Segalaku

Hari ini adalah titik awal saya mulai menulis sesuatu…… yup, saya harus melakukan itu, untuk menepati janji saya tadi malam…

Ahha… melihat tumpukan buku diatas CPU… mungkin dimulai dengan membaca buku, bisa membantu… warna hijau, The Art of Dealing with People, Les Giblin, … Sukur-sukur saya bisa dapet inspirasi…! Baru buka halaman depan… haiiiyaaa dapet ni, setelah membaca kutipan berikut…..

“Pengkondisian pikiran bisa membuat pikiran kita tanggap dan cukup kuat untuk mengubah pemikiran yang mucul dari alam bawah sadar yaitu pemikiran kreatif yang membawa pada kesuksesan dan kebahagiaan (Norman Vincent Peale; pengondisi pikiran)”.

Pernyataan ini membuat saya sampai pada pertanyaan “Kebahagiaan seperti apa yang saya cari?” Saya yakin, saya harus bisa mendefiniskan kebahagiaan apa yang sebenarnya saya cari? Harus jelas, jangan samar-samar ah… Jangan biarkan kerangka lama bermain dalam kehidupan saya. Untuk mencari kebahagiaan itu, saya harus aktif bergerak… melihat… mendengar… membaca… dan melakukan … ketimbang bermimpi di siang bolong. Going nowhere? Aihhh, hari geneh? Nggak keren ah! Masih mending keong jalan pelan… daripada singa duduk malas di singgasananya… hahaha… baru tersadar setelah saya disadarkan pada kenyataan bahwa saya memang duduk diam di satu titik, setelah sekian lama bertahan mengikuti arus……. HanyuUUt… glekk!

Kuatnya apa yang saya ucapkan, menjadi kekuatan doa… saya selalu ucap kalau saya harus keluar dari wilayah kenyamanan saya di tahun 2008 nanti. Membebaskan diri dari perasaan bahwa prestasi besar berada di luar jangkauan. Walk my talk by GEMBA… saya sudah mengucapkan itu, so terjun langsung doung Mama Luna… wake up, ideas wont work unless I do! Saya tidak ragu untuk memutuskan membebaskan diri dari penat selama ini… dari peluh yang membahasi lantai dengan airmata berlinang tanpa ada habisnya dan pandangan “ah saya tahu kegelisahan di hati kamu Evie”, ditambah lagi kuatnya intrik dua kepentingan besar … terjepit di tengahnya… wouw tersiksa, nelangsa amaatt……. Seperti ada di situ tapi tidak lengkapp…. Pikiran disibukkan dengan terus mengatur siassaatt… Jangan begini nanti begitu, jangan ini nanti itu, harus bilang X supaya hasilnya Z… Duh, bisa diam gak siiihhhh kalian?? Kasi saya celah sedikiiiiit aja… biar saya bisa berpikir jernih.

Karena saya baru bisa bereaksi, dengan menyediakan waktu buat diri saya sendiri, untuk membuat rencana, ide atau lontaran jawaban agar semuanya bisa mucul bersama-sama secara perlahan dalam pengendalian diri saya. Makanya, kasi saya sedikit ruaaaang… sebentar aja! Tapi…… kenapa pas ruang itu ada, dan saya melakukan itu semua…. Yang ada saya melulu salah??? Saya terlalu naifffff atau saya terlalu mudah percaya….? Betapa bodohnya saya karena saya nggak tau siapa kawan dan siapa lawan saya saat itu?? Duh… sakitt. Hebat sekali perseteruan itu…. tidak habis pikir, kenapa saya terlibat di dalamnya? Salah sayakah ini??

Ingat kesakitan itu membuat pikiran saya kembali lagi di titik itu… Membayangkan bagaimana tidak mudahnya merasakan pahitnya lara saat itu. Ketika kesatuan terdekat dalam hidup saya pincang… di tengah kebahagiaan lahirnya my lovely Luna, “sang penyemangat” dalam hidup saya. Saya merasakan betul sakitnya kehilangan wilayah kenyamanan di Oktober 2004. “Maafin Mama ya Luna sayang, pasti kamu ngerasain sedihnya mama waktu itu…. yang sering nangis di tengah malam sambil megangin kamu di perut mama… sendirian…”. Ya, saya terus berjuang sendiri sampai dengan tahun 2008, masih di titik itu… Ya Alloh… tanpa kekuatanMU apa lah artinya saya…. Waktu yang tidak berujung membuat saya mau menghabiskan apa yang saya miliki, lagi-lagi pada titik itu… Apa-apa selalu disitu… Saya hajar dengan aktif bergerak penuh komitmen plus segudang prestasi hebat tepat tenggat, tapi kosoooong…. sepi di dalam….. menunggu datangnya pencerahan di kurun tertentu….. yang saya tunggu sekiaaaannn lama….

Alhamdulillaah… Kekuatan pikiran dan doa memang ampuh terbukti. 2008. Di kurun itu, ada satu pengkondisian di luar sana… yang membuat saya mau bergerak mendekatinya. Mungkin ini bisa menjadi kapal menuju ruang yang saya impikan selama ini….. Keluar dari dera sakit ini…. Kemudian tiba-tiba… Wouw, asik nih… ketika di titik lain juga ada pengkondisian luar biasa, sebuah kekuatan yang menarik pikiran saya… untuk berani ambil keputusan ikut terjun di dalamnya… Ya Alloh, diluar perkiraan saya reaksi sontak kekagetan semua orang saat itu… saya bisa mencuri perhatian banyak orang… se Indonesia…. Hahahaha… Evie, Evie… kamu dari dulu gak kemana-mana, terlihat asyik di titik itu…. Kenapa mau ikut-ikutan arus? Mau coba ambil kesempatan dalam kesempitan? Nyadar doung… baca nggak aturan mainnya?!! Ya, saya tau… umpatan itu yang ada di benak mereka. Sayangnya saya baru merasa sadar diri ketika saya berada di antara mereka. Tapi seorang Evie harus bisa menaklukan ketakutan akan pikiran mereka terhadap saya saat itu. Pada akhirnya saya tetap berdiri tegak dan selalu tersenyum menghadapi mereka…. meski mata bengkak karena airmata di hari kemarin.

Gubbraakk, kenapa orang baik tidak selalu mendapatkan hasil yang baik juga ya?? Saya bingung mencari jawaban dari pertanyaan itu…. Sulit menjadi orang dengan pengakuan predikat baik, memenuhi semua kualifikasi yang dipersyaratkan dengan istilah tepat di antara tingkatan real dan ideal. Alahh, lebih baik tidak punya itu semua, sama sekali… kalau akhirnya semua itu tidak memberi keuntungan buat saya saat itu. Selalu tidak pas…. Ahhhh, sakit lagi! Membayangkan sakitnya perjalanan panjang yang saya lewati… menunggu kepastian sang pemegang kekuasaan… bertemu seseorang, si pemberi angin segar, bertemu seseorang, si pemberi asa, bertemu seseorang, si pelipur lara dan pendengar yang baik, dan terakhir bertemu seseorang… sang penindas…. jeddder, tertembak saya, luka di tempat…..sakiiittt! Airmata saya berlinang lagi di akhir masa penghabisan saya disana…. Walaupun maaf sudah orang terakhir itu ucapkan untuk saya, tapi sakitnya masih ada…. Maaf ya boss, saya tidak bisa membohongi perasaan saya. Biar waktu yang menyembuhkan luka ini…. perlahan-lahan, nanti juga boroknya ilang…

Tepat di 1 April 2008 saya meninggalkan kebiasaan, saya ambil resiko itu, dan lakukan sesuatu di pengecualian wilayah kenyamanan saya…. dengan hati terluka dan sisa lelah yang mendera, 1 hari tepat setelah saya meninggalkan singgasana kebesaran saya, pun tanpa kepastian kabar status terakhir "saya" seperti apa jadinya?? Gllleekk lagi… Kenapa saya diperlakukan sedemikian gilanya, pikir saya… Apa salah saya? Yang saya pikirkan hanya pergi berlari meninggalkan itu semua… lari dari kekuatan sang penindas yang tidak punya hati nurani…… Wasting my time!!

Lah Evie, kenapa kamu ambil resiko itu? Kenapa tidak kamu alihkan saja resiko itu pada orang lain? Ya, jawabnya karena saya mungkin tidak bisa mengubah dunia luar… saya hanya bisa mengubah dunia saya sendiri. Jadi saya yang harus bergerak meninggalkan titik itu, singgasana saya dari Desember 1999 – Maret 2008… Meninggalkan kehidupan baik untuk terus mencari kebahagiaan saya yang lain diluar sana. Asek assseek…. Akhirnyaaa, saya sekarang tahu apa yang saya inginkan dalam kehidupan berkarier saya… Ah masa? Ya saya sudah ambil keputusan…. dan punya komitmen baru dengan bersandar pada kerangka itu… “Walk My Talk”…

Nah, ini sepenggal jawaban dari semua pertanyaan orang-orang sekitar yang peduli dengan saya, yang selalu mempertanyakan kenapa saya meninggalkan Panasonic yang membesarkan saya dalam 8,5 tahun terakhir ini……….??


"SELESAIKAN APA YANG SAYA MULAI…".


- ERS -
di Sabtu pagi yang cerah, 26 Juli 2008