Merdeka atau Mati .... atau Diam di Tempat?
Heran bangsa ini... sudah merdeka 63 tahun tapi penduduk di dalamya masih saja kurang didik. Termasuk saya, yang terjerembab kurikulum pendidikan aneh yang diset sejak jaman nenek moyang. Apa musabab? Feodalisme yang begitu kentalnya telah membentuk karakter manusia bukan unggulan. Kalah bersaing itu mah biasa... Untuk menjual dirinya sendiri masih ragu. Wajar lawan bicara pun ragu dan memandang sebelah mata. Apa pasal?? Kebanyakan dari kita melarikan diri ke arah berlawanan dengan nilai yang diajarkan orangtua, sumber terdekat kita di keluarga inti. Mental tidak berani membantah dan bicara lantang sungguh mengakar. Seperti perangko yang begitu kuatnya menempel. Saking kuatnya bingung untuk merobeknya pelan-pelan, takut rusak... Takut bicara, takut salah dan beribu takut lainnya. Seperti pola... siapa yang salah? Tidak ada yang perlu disalahkan. Semua terkait.
Dengan penuh keyakinan euphoria agustus datang... Merdeka... Merdeka... !! Arus informasi terkait dengan derasnya terasa, di media, tempat hiburan, di sudut-sudut jalan. Berantakan tanpa hilang wujud.... dalam balutan merah putih semua tampak. Semua kamuflase banyak cakap seolah pakar pun marak. Hmmmmhh.... Apa sudah pantas keyakinan itu menghampiri, jika kita masih belum bisa menyuarakan isi hati kita dengan seutuhnya, kapitalisme negara luar marak disana-sini, perut kosong sambil menadahkan tangan yang terlalu banyak untuk dihitung dengan jari, pornografi dan penyimpangan seksual yang menakutkan dimana orang-orang yang kita kagumi terlibat, antri minyak tanah dan menunggu diberi sangu mewabah, korupsi di Dewan Kehormatan pilihan rakyat seperti efek bola salju, wwuiihh... orang yang kita pilihnya itu loh yang nggak nahaannnn.... bener-bener jeruk makan jeruk..... ?? Jadi kita ini merdeka atau ..... mati ??
Ingat jargon Merdeka atau Mati dari para pendiri ngeri rasanya..... jika hanya ada dua pilihan untuk kondisi bangsa kita saat ini... Terlalu cinta saya dengan negeri ini, tempat saya dilahirkan dan menjalani life event penting selama 32 tahun belakangan. Terlalu banyak harapan saya untuk kemajuan Indonesia di kemudian hari. Banyak terlalu... untuk Indonesia. Sulit sekali wajah negeri ini berubah. Lebih cantik dengan merawat diri dan membenahi dirinya. Wangi, enak dilihat, mbetahin, dinamis, pintar, elegan, mimpi indah itu jangan pernah hilang ya wahai orang-orang di dalamnya.... Kemajuanmu adalah kemajuan untuk saya... untuk anak dan keturunan saya nanti. Apa jadinya jika diam di tempat terus terjadi sampai saya tidak ada nanti. Aduh.... sedih... gimana nasib Luna dan anak saya lainnya nanti pak pemimpin?? Apa mereka harus pergi dari sini dibesarkan di Indonesia dengan kurikulum internasional kemudian dinikmati kontribusinya oleh bangsa lain di luar merah putih kita?
Ayo doung berubah dengan semangat itu .... Merdeka atau Mati.... berubah tuju bangsa adil dan makmur. Saya juga melebur dengan proses perubahan itu lewat kontribusi saya di keluarga, pekerjaan dan sosial saya dengan pribadi merdeka yang seutuhnya...
Saya Terlalu Cinta Kau dan Dia
ERS,
nunggu boss nebeng bareng mpe uki, di selasa malam yang sepi