Tembok itu sangat tinggiiii... sulit dijangkau. Mencoba menyentuh permukaannya butuh daya ekstra. Diisi berulang pun daya itu, tetap tak bergeming. Tak terjamah, tetap sulit jangkau. Berhasil aku berdiri di atasnya dengan coba menapakinya tertatih-tatih tapi belum juga sampai di puncaknya. Pelan, melambat... cepat, pelan, merunduk... menyesuaikan menyesuaikan menyesuaikan... tapi usaha yang dikeluarkan belum ada hasilnya. Ambrol kembali ke titik awal. Arusnya mengalir ke titik itu-itu saja... turuuunn deras meluncur ke bawah. Aku tidak habis pikir. Banyak tembok kutemui... aku berhasil mencapai puncaknya. Pencerahan itu bisa mereka dapatkan. Perasaan lega itu terlihat jelas dari reaksi mereka di akhir pertemuan. Tapi mengapa tidak pernah ada raut itu tersirat dari tembok tinggimu?
Tembok itu jelas terlihat angkuh... Siap menebar ketakutan yang bisa membuat orang tergelincir, terjatuh dan sakit luka dalam.... sampai susah tidur berhari-hari. Menoleh ke arahmu selalu membuat orang-orang ragu untuk mendekat, walaupun megahnya pernak-pernik itu menghiasi tembokmu... tapi banyak yang tidak mau berlama-lama ada di dekatmu. Kerasss... susah ditembus, siap meradang kapanpun letupan itu datang. Orang malas menapaki dinding kerasmu yang bisa menghujam ulu hati yang terdalam pada siapa saja yang siap dan tidak siap... Yang siap hanya bisa memaklumi, yang tidak siap hanya bisa tertunduk dalam sambil coba berhati besar memaklumi kasarnya dinding kerasmu itu.
Titian anak tembokmu kau pelihara menjadi sangat kuat. Mereka belajar banyak dari caramu membesarkan mereka. Tanpa ajaran itu mereka tidak akan jadi seperti sekarang. Bisa sekuat itu tidak lepas dari pengaruhmu. Kemandirian, tidak mau merepotkan dan toleransi besar itu nyata ada pada mereka. Mereka bicara padamu dengan suara rendah tapi kau balas dengan suara keras. Ada saja pertentangan itu... Aku tahu, alam lah yang membuatmu seperti ini. Dibalik kekokohan itu... aku tahu sebenarnya kau rapuh di dalam.... Hanya titianmu yang mau menemanimu di gelapnya malam dan teriknya siang. Mereka akan selalu ada untukmu, walaupun kau sukar dimengerti...
Titian anak tembokmu kau pelihara menjadi sangat kuat. Mereka belajar banyak dari caramu membesarkan mereka. Tanpa ajaran itu mereka tidak akan jadi seperti sekarang. Bisa sekuat itu tidak lepas dari pengaruhmu. Kemandirian, tidak mau merepotkan dan toleransi besar itu nyata ada pada mereka. Mereka bicara padamu dengan suara rendah tapi kau balas dengan suara keras. Ada saja pertentangan itu... Aku tahu, alam lah yang membuatmu seperti ini. Dibalik kekokohan itu... aku tahu sebenarnya kau rapuh di dalam.... Hanya titianmu yang mau menemanimu di gelapnya malam dan teriknya siang. Mereka akan selalu ada untukmu, walaupun kau sukar dimengerti...
I love You... in my heart and still...
*bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar